 |
| Pak Soid, sang pekerja keras |
Cerita berawal dari email yang saya dapat dari Fitri (@fiantie), 14 November lalu. Berikut cuplikan emailnya.
Dear Mba Azza,
Didaerah Pamulang Tangerang ada seorang Kakek yang usianya sudah renta sekali kira2 umurnya sudah melebihi 70thn. Beliau tinggal bersama istrinya yg lumpuh dan seorang anaknya yg juga lumpuh. Si kakek dengan usia yg sudah renta masih harus bekerja karena beliau sudah tdk punya sanak family lg.Beliau bekerja sbg OB di Pelabuhan Tanjung Priok. Bayangkan kakek setua itu berangkat subuh dr Pamulang ke Tj Priok & smpe rumah jam 9 malam. sebelum berangkat & plg kerja, si kakek harus menyiapkan makan yg diletakkan di dekat anak & istrinya berbaring. Selain itu si kakek juga harus membersihkan kotoran2 istri & anaknya tsb.
oiya, si kakek bernama Pak Soid. Beberapa wktu lalu ada kejadian yg amat sangat memilukan. Pak Soid &keluarga berniat untuk meminum racun serangga karena sudah tidak kuat dgn penderitaan yg mereka alami. Untung ada tetangga yg mengetahui sehingga hal tersebut tidak terjadi.
Maksud saya mengirimkan email ini adalah saya ingin meminta bantuan Mba Azza, sebab saya tidak bisa melakukan banyak hal untuk si Kakek. Mohon bantuannya Mba.
Regards,
Fitri
08988941425
@fiantie
Tanpa banyak pikir saya langsung menyetujui untuk membantu Fitri. Saya tidak ingin kejadian teman saya terulang lagi. Teman saya sempat cerita, seorang kenalannya hendak meminjam uang karena tak tahan lama sakit. Ia menyetujui namun belum sempat memberi karena sibuk. Tak berapa lama, ia mendengar kabar orang tersebut sudah meninggal bunuh diri. Rasa sakit itu tak tertahankan lagi rupanya :(
Singkat kata, saya tidak bisa meninggalkan rumah karena sebuah kejadian. Akhirnya baru hari ini, Selasa, 20 November saya bisa mengunjungi Pak Soid. Rumahnya di daerah Pamulang. Dari arah Ciputat mengarah ke RS Sari Asih, lalu akan melewati Danau Sasak. Di dekat Danau Sasak ada Indomaret. Tepat di sebelah Indomaret ada Gang Saidin, RT 2/RW3, Bambu Apus, Pamulang. Alamat lengkapnya tidak tahu. Namun patokannya sebuah masjid besar di Gang Saidin. Begitu sampai di situ, tanya saja Kakek Soid yang keluarganya lumpuh, biasanya tetangga sudah tahu.
Jam 3 sore, ditemani hujan saya memasuki gang Saidin ditemani Mbak Tarni, tetangga Pak Soid yang dari awal sangat peduli dengan kondisinya. Saya mendapatkan nomor Mbak Tarni dari Fitri.
“Saya mulai khawatir saat nggak pernah lihat istri Baba Soid lagi, Mbak. Biasanya kan emak keluar rumah tuh, tapi udah berapa minggu saya gak ketemu. Pas tanya Baba, ternyata udah lumpuh juga, sama kayak anaknya! Kasihan deh Baba. Sekarang dia yang harus masak, mandiin, ngurusin, dan segalanya. Padahal dia juga masih harus kerja buat nafkahin anak istrinya,” terang Mbak Tarni yang baik hati ini. Alhamdulillah, masih ada orang yang tulus peduli pada tetangganya.
Sampai di rumah Pak Soid, gelap. Lampu tidak mereka nyalakan di sore hari kelam itu. Mungkin biar ngirit. Di atas meja tamu ada kucing montok yang cukup terawat. Pak Soid mempersilahkan saya masuk. Pak Soid terlihat kurus, tua, namun matanya bercahaya. Penuh semangat. Saya langsung menghormatinya :) Di dinding rumahnya terpajang foto-foto presiden; Soekarno, Soeharto dan Megawati. Celingukan saya cari foto presiden lainnya, nggak ada. Ada sekitar 3 foto Soekarno di sana.
“Waktu kerja di Priok, sebelum adzan subuh saya udah harus berangkat. Naik angkot 2 kali dari sini. Saya kerja di sana udah dari tahun 1977, punya beberapa anak buah,” ceritanya dengan logat Betawi yang kental. Pak Soid dan istri memang asli Betawi. Untungnya, saat ini Pak Soid sudah mendapat pekerjaan baru sebagai tukang sapu jalanan di daerah sekitar. Jadi dia tak harus berjuang berangkat sebelum subuh dan pulang malam hari lagi.
 |
| Namin, 30 thn-an, hanya bisa menggerakkan kepala. Lainnya lumpuh. |
 |
| Tiap malam menjerit-jerit minta dipukul |
“Si Namin waktu sekolah memang pernah jatoh, sampe jalannya agak aneh. Tapi dia nggak mau cerita. Memang anaknya gitu. Beberapa lama baru ngaku dia pernah jatoh. Tapi dia lumpuh ini, sebenernya karena jatuh di tempat kerja. Ngegelundung dari tangga. Nggak mau ngaku juga sama saya! Setelah beberapa lama baru ngaku, kan jadi telat ngurutnya. Tapi yang paling bikin dia lumpuh adalah waktu bininya keguguran. Nah, abis itu udah dia nggak bisa bergerak. Kaki sama tangan nggak bisa gerak. Cuma bisa ngomong doang,” cerita Pak Soid panjang lebar. Istri Namin meninggalkan dia.
Saya masuk ke ruangan dimana Ibu Soid tidur di atas ranjang, sementara anaknya Namin yang umur 30-an tidur di bawah. Bau pesing menyengat.
Pak Soid bercerita kalau istrinya lumpuh karena Namin sering meminta digeret atau dipindahkan. Ibu Soid yang sudah tua, hampir 80-an tentunya tak kuat lagi. Lama kelamaan, bukan cuma bungkuk, akhirnya dia pun tak bisa berdiri akibat memaksakan diri mendorong atau mengangkut anaknya. Sekarang, kalau Pak Soid bekerja, dia merangkak semampunya untuk melayani anaknya.
Saya jongkok di sebelah Ibu Soid, mengajaknya dan Namin ngobrol. Bau pesing dan kotoran tak tertahankan. Bukan ruangan yang layak untuk manusia sehat.
“Ini Namin, kerjanya teriak-teriak minta dipukul pakai bambu! Malem-malem juga jerit-jerit terus, tetangga sampai terganggu!” kata Ibu Soid.
Dari cerita Pak Soid, saya jadi tahu kalau Namin sering minta dipukul kaki dan tangannya karena kalau kakinya lurus terus, ia akan merasa kesakitan. Mungkin pegal ya? Saya tak mengerti. Jadi ya kerja Ibu Soid adalah memukuli kaki anaknya. Saat kakinya lurus dan kejang, ia akan memukulnya supaya bisa bengkok, ditekuk. Saat ingin lurus lagi, ya harus dipukul lagi :((
Karena terlalu sering dipukuli kaki dan badan Namin jadi luka-luka dan borokan.
Melihat Namin rasanya ingin menangis. Seonggok badan. dengan tangan yang sangat kurus. Mungkin seperti tangan bayi. Badan dan bajunya dekil. Dan yang jelas bau :( Mereka sungguh terlantar. Saya mengerti Pak Soid sudah sangat tua, dan tentunya sulit baginya untuk membersihkan anak & istrinya tiap hari. Namun tak terbayangkan oleh saya, bagaimana rasanya tidur, tergeletak dengan kotoran kita sendiri? Karena kita lumpuh dan tak berdaya pergi ke kamar mandi. Ya Allah… ampuni hamba…
Tak berapa lama saya menoleh ke sebelah kanan tempat saya jongkok. Ada beberapa kaleng. Satu kaleng berisi cairan. Dan sungguh saya menyesal melihatnya. Ternyata itu tempat menampung pipis sang ibu dan anak :(
Di ruangan yang sama juga adalah tempat mereka menyimpan makanan. Terlihat sepiring nasi dan ikan yang sudah dihancurkan, tanpa lauk lain. Saya bertanya apakah Namin sudah pernah diobati. Menurutnya pernah sekali dengan dokter umum, namun katanya cuma darah rendah saja. Tak pernah ada diagnosa tentang penyakit lumpuhnya. Jadi, sampai sekarang tidak pernah ada pemeriksaan medis untuk mengetahui kenapa Namin bisa lumpuh. Tidak pernah diperiksa dan tidak tahu solusi apa yang diperlukan.
Saya bicara dengan Pak Soid, apa yang ia harapkan. Dengan perlahan saya melemparkan ide, apakah dia ingin beristirahat di rumah jompo asuhan negara. Dimana ia bisa beristirahat, berkumpul dengan sesama teman manula, dan tak perlu memikirkan harus makan dari mana. Namun dia bilang, anaknya Namin masih ingin dia urus. Intinya, mereka ingin tetap bersama, dalam susah dan senang. Dan karena dia masih mampu, dia ingin tahu, sejauh mana sih dia bisa mengurus keluarganya. “Ikutin aja, Neng, ini segimana jauhnya,”. Dalam hati saya teringat rencananya minum obat serangga. Ya Tuhan, kuatkanlah dia dalam menjalani pelajaranmu ini… Semoga kehadiran saya dan teman-teman yang peduli bisa menambah semangat hidupnya, bisa menghangatkan hatinya, bisa menumbuhkan harapan untuk masa tua yang lebih damai dan nyaman.
 |
| Makan siang Bu Soid |
 |
| Namin saat sehat |
 |
| Dapur |
 |
| Meja makan dgn beras pemberian |
 |
| Ruang tidur bersama |
 |
| Pak Soid & Bu Soid muda |
 |
| “Saya bangga pada presiden, mrk bapak saya!” |
====
Teman, ini yang saya usulkan kita lakukan; Let’s adopt this family! Anda pernah dengar kan kalau kita bisa memiliki anak asuh dari keluarga tak mampu? Jadi, anak tersebut tetap tinggal dengan keluarganya atau panti asuhan, kita cukup memberikan dana sekian agar ia bisa tetap sekolah. Bagaimana kalau kita lakukan hal yang sama dengan Pak Soid?
Cara membantu Pak Soid dan keluarga:
1. Sisihkan uang semampu kita untuk biaya hidup Pak Soid dan keluarga secara konsisten. Rp 50 ribu atau lebih kecilpun tak apa. Saya yakin per bulan ada kok yang mau membantu juga. Jadi kalau dikumpulkan hasilnya akan banyak. Kuncinya: sumbanglah jumlah yang tidak memberatkan untukmu, tapi kamu bisa konsisten melakukannya secara berkala. Misal, tiap bulan menyumbang Rp 30 ribu untuk Pak Soid, tapi kamu lakukan secara rutin.
Dalam jangka waktu dekat, saya ingin Pak Soid membuat rekening tabungan sendiri. Tentunya ia harus memiliki surat-surat yang lengkap, dan ini akan memerlukan cukup banyak waktu. Namun, sementara itu, Fitri (yang mengabari saya tentang Pak Soid) sudah menyanggupi untuk menjadi penanggung jawab untuk bantuan Pak Soid. Saya tidak mau menerima dan mengelola uang. Anda yang ingin membantu untuk sementara bisa men-transfer ke BCA Fitri yang saat ini kosong. Uang yang ditransfer akan dibelikan sembako seperti: beras, minyak, gula, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sisanya akan diberikan ke Pak Soid langsung agar dia bisa membeli lauk kesukaannya. Fitri akan memberikan pertanggungjawabannya lebih Twitter di akunnya @fiantie.
Lebih bagus lagi kalau teman-teman datang sendiri ke rumah Pak Soid dan memberikan bantuan langsung. Saran saya, langsung berikan sembako agar beliau tak capek berbelanja. Lebih bagus kalau Anda ketemu dulu beliau untuk mengecek apa yang kurang di rumahnya.
Pak Soid ternyata lebih senang memasak sendiri. Awalnya saya ada ide memberikan dia layanan makan sepuasnya di warteg daerah situ (kita bisa simpan uang di warteg tersebut, jadi Pak Soid bisa makan kapan saja), tapi dia menolak.
Secepatnya kita akan usahakan Pak Soid punya rekening bank sendiri, jadi teman-teman bisa langsung transfer ke beliau. Namun sementara, Fitri bisa membantu.
BCA 7390693359 atas nama IIS FITRIANTI
KCP Ahmad Yani Bekasi.
Terus terang, saya hanya mengenal Fitri dari email yang ia kirimkan ke saya. Namun menurut pendapat saya pribadi, Fitri bisa dipercaya.
Kita melakukan ini berdasarkan kepercayaan dan niat baik. Meski saya tak mengenal Fitri, saya percaya dia akan menjaga amanat ini.
2. Kunjungi Pak Soid, beri dia bantuan moril. Tidak semua orang punya uang lebih dan mampu berkomitmen “mengadopsi” sebuah keluarga. Tak apa, kita lakukan semampu kita saja :) Temui Pak Soid, ajak bicara. Temani Bu Soid, kuatkan Namin juga menjalani cobaan ini. Perhatian dan kasih sayang kita akan membantu mereka menjalani hidup yang terkadang terasa berat ini.
3. Bantu doa. Prayer is underrated. Doakan Namin bisa sembuh dan Pak Soid dimudahkan dalam segala urusannya.
4. Bila Anda dokter atau punya koneksi ke petugas kesehatan: bantu periksa Namin. Jadi kita bisa tahu bagaimana cara terbaik menolongnya. Ia baru berusia 30 tahunan namun lumpuh dan tak berdaya tanpa tahu alasannya. Saya pribadi akan berusaha mencari bantuan medis untuknya, dan akan saya update di blog ini atau twitter saya (@_ _ azza).
=======
Semua cerita ini adalah benar, bukan hoax. Saya, Azza Waslati saat ini adalah konsultan kreatif untuk digital agency. Saya sebelumnya juga merupakan VP Marketing & Sales untuk Solvo (solvo.co.id), Marketing Director untuk Dealkeren.com, Creative Director untuk m-STARS, dan wartawan di Her World, Cita Cinta, MTV Trax magazine, Bintang Millenia. Mantan Penyiar radio di MGT FM Bandung, X Radio Bandung, dan produser di Hard Rock FM Bandung.Saya bertemu langsung dengan Pak Soid, di rumahnya di Gang Saidin, Pamulang, Tangerang untuk meminta ijin membuat tulisan ini.
Relawan penanggung jawab untuk “Bantu Pak Soid” adalah Fitri yang saya kenal melalui twitter. Silahkan telpon
Fitri di 0898- 894-142-5 atau melalui email di
v3.daiva@gmail.com.
Email saya (Azza) miogagaro@yahoo.com.
Untuk bantuan teman-teman, dari hati paling dalam dan paling tulus, saya mengucapkan terima kasih.
Tidak satu pun benih kebaikan yang kau tanam akan sia-sia. Tapi dia akan menjadi pohon kebaikan yang akan memberikan banyak manfaat bagi dirimu sendiri & orang-orang yang kau cintai :) Semoga suatu saat, ketika kau membutuhkan tangan untuk menolongmu keluar dari kesusahan, akan banyak tangan terjulur membantumu, Teman :)
Let’s save humanity. Show love & compassion. Bless you all.
Komentar Terbaru